KAIFIAT MUJADALAH
RESUME
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Pada
Mata Kuliah
Kaifiat Mujadalah
Oleh;
Dindin Sehabudin Ahmad
Ateng Mulyadi
Ami Anshari
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
UIN SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2011
BAB I
Dasar-dasar kaifiyat mujadalah
Pengertian kaifiyat mujadalah
Kaifiyat
mujadalah merupakan gabungan dari dua kata, kaifiyat yang berarti hal, peri,
sifat, tata cara, akidah, atau teknik. Adapun mujadalah menurut semantik, yang
secara leksikal berarti keras atau kuat.
Menurut
bahasa, kaifiyat mujadalah berarti teknik yang kuat dalam mempertahankan
argumentasi, tau biasa disebut debat.
Objek kajian dari kaifiyat
mujadalah adalah setiap ilmu yang memiliki objeck material, yaitu manusia dalam
kegiatan berfikirnya, bahkan lebih khusus lagi metode berfikir manusia. dan
objeck foramal. Sampai disini kaifiyat mujadalah memiliki kesempurnaan dengan
logika, logika scientifik dan ilmu mantik.
Kaifiyat mujadalah berguna sebagai:
- sarana pencarian kebenaran
- sarana pengujian kebenaran
- sarana mempertahankan kebenaran
- sarana 'amar ma'ruf nahyi munkar
Adapun dalam lingkup praktis, kaifiyat mujadalah dapat
berguna sebagai:
- sarana pengakuan kualitas seseorang
- cermin kebebasan akademik
- cermin masyarakat demokratis
kaifiyat mujadalah juga berhubungan
dengan ilmu mantik dan juga ilmu yang memiliki bobot praktik uji argumentasi
serta aktivitas yang yang memiliki bobot proses pengujian sebuah gagasan,
konsep, atau argumentsi..
Kaifiyat mujadalah telah ada sejak
ribuan tahun sebelum masehi. Ujadlah dipakai untuk mengukur tingkat keilmuan
seseorang. Dalam realitas sejarah kaifiyat mujadalah memiliki dua sisi, yaitu pertama,
merupakan adopsi dari non-muslim yang mewarisi ini dari yunani . pandangan ini
di secara kuat diyakini oleh para orientalis yang telah melakukan penelitian
dibidang ini. Kedua, mujadalah merupakan praktik asli prodak tradisi
islam. Menurut pandangan ini kaum muslim tidak perlu belajar debat dari orang
lain. Ini dapat didukung dengan menelusuri akar mujadalah dalam Al-Qur'an. .
Ibnu Khaldun (w. 808 H) mencatat bahwa setelah popularitas pada masa-masa
sebelumnya, ia menyatakan bahwa pada zamannya seni dan teknik mujadalah dalam
tlulisan-tulisan yang berkaitan dengannya telah mengalami kemunduran besar.
Kegiatan mujadalah mendapat kritik
dari Al-Ghazali. Merutnya mujadalah pada masa itu dipandang kaku dengan
aturan-aturan yang telah ditetapakn oleh beberapa ilmuan. Mujadalah pun dapat
menimbulkan kericuhan yang terkadang berakhir dengan kekerasan. Unsur persaingan dalam mujadalah secara mudah
beralih menjadi keributan emosional, lebih-lebih karena mujadalah biasanya
dilakukan secara publik. Dua aspek inilah yang menjadi sarana Al-Ghazali untuk
mengkritik mujadalah. Menurut pengamatannya, praktik mujadalah telah menyimpang
dari apa yang seharusnya. Fumgsinya sebagai saran pencarian kebenaran hampir
tenggelam oleh tujuan-tujuan tertentu, yang tidak religius dan bahkan tidak
ilmiah.
Nama-nama lain dari kaifiyat
mujadalah:
1. Munajaah atau berdialog,
prosesnya berbentuk perbincangan untuk memecahkan masalah.
2. muhawarah, berdiskusi atau
berdialog. Yagn dilator belakangi dengan ketidak tahuan atau keraguan,
kebimbangan, dan kebungungan. Bentuk ini cenderung lebih efekti dalam
memecahkan masralah.
3. Mughalabah, lebih spesifik
untuk mengalahkan, mengatasi atau menguasai (dengan cara memaksa)
4. Mudzakarah, bias
melibatkan lebih dari dua pihak
5. Al-Batsi, lebih cenderung
kepada aspek penelitian, pengkajian dan pembahasan.
6. Al-Mira, lebih cenderung
penekanan tukar pikiran
7. mujadalah, mengakumulasi
semua cirri dari atas
Mujadalah tidak selamanya
berindikasi baik, ukuran penilaiannya, selain syari'at islam secara umum, juga
yang lebih umumnya ialah maslah mursalah. Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman:
"Tidak ada yang yang
memperdebatkan tetang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang kafir, karena itulah
jangan engau terkecoh dengan berbagai aktifitas mereka di negri-negri"
Syekh Bakar Abu Zaid menerangkan
sesungguhnya Allah yang maha suci menerangkan dalam Al-Qur'an jenis-jenis
mujadalah yang jelek dan tercela, yaitu:
- Bermujadalah dengan kebatilan untuk meruntuhkan kebenaran
- Bermujadalah dalam setelah jelas tentangnya.
- Bermujadalah tentang apa yang diketahui tentang apa yang tidak diketahui oleh pihak yang bermujadalah
Kajian problematika kaifiyat
mujadalah, yang tingkatannya meliputi:
- Kajian terhadap konsep kata
- Kajian terhadap kalimat
- Kajian teradap kekokohan argumentasi
Selain itu ditambahkan dengan
langkah pengujian meliputim
- Menuntut penjelasan
- Membatalkan penjelasan
- Mengajukan alternative penjelasan
Selanjutnya diperluas dengan adanya
kode etik yang mencakup:
- Spiritual Quotient
- Intelegence Quotien
- Emosional Quotien
- Tecnikal Quotien
Akhirnya semua kekayaan konsepsi
mujadalah tersebut di aplikasikannya dalam berbagai pilihan;
- Diskusi dengan berbagai jenisnya
- Debat
- Polemik
BAB II
KONSEPSI MUJADALAH
TA'RIF: Membangun Landasn
Argumentsi
Secara bahasa ta'rif berasal dari bahasa 'Arab
yang berarti proses memakanai, sedangkan dalam bahasa latin definition. Kata
dasarnya finis berarti batas atau memberi batasan. Keduanya disebut kaul syarih
Adapun secara istilah ta'rif
dimaknai sebagai suatu pembatasan atau penjelasan pada suatu pengertian.
Para ahli logika (Mamantiqol) merumuskan definisi
sebagai sesuatu yang apabila diketahui, ia akan mengakibatkan diketahuinya
sesuatu tersebut atau sesuatu itu dapat dibedakan dari yang lainnya.
Adapun jenis ta'rif:
- Ta'rif lafdzi:
- Ta'rif setara
- Ta'rif lebih khusus
- Ta'rif dengan kata yang lebih umum
- Ta'rif hakiki, nau', jinis, fashl, khos, arodham
Aturan dalam Ta'rif
- Aturan ta'rif lafdzi:
- Tidak menggunakan kata-kata yang tidak dikenal
- Tidak menggunakan kata-kata yang diri sendirinya pun tidak mengetahui
- Susnan kata harus rapih dan dapat dipahami oeleh kedua pihak yang bermujadalah
2. Aturan ta'rif hakiki:
a. Ta'rif harus lengkap dan
utuh
b. Ta'rif harus membatasi
c. Ta'rif harus sesuai dengan
objeck ta'rif yang dikhususkan
d. Ta'rif harus lebih terang
dari yang di ta'rif
e. Ta'rif tidak terjadi daur
f. Ta'rif tidak menggunakan
kata-kata majaz
g. Ta'rif tidak menggunakan
kata-kata mustarak
h. Ta'rif tidak menggunakan
kata-kata asing
i.
Ta'rif tidak menggunakan kata-kata negative
j.
Ta'rif tidak menggunakan kata-kata tidak memenuhi kaidah bahasa
Sesuatu yang tidak dapat di
ta'rifkan:
- Kata yang tidak genera atau jinisnya
- Kata yang sulit pembedanya (di definisinya)
- Kata yang tidak bisa ditemukan pembedanya
- Terma khusus dan nama unik, karena memiliki sifat kesendirian yang tidak terbatas
Mujadalah dalam ta'rif
- Man'u terhadap ta'rif
- Naqdhu terhadap ta'rif
- Mu'aradah terhadap ta'rif
BAB III
Konsepsi Mujadalah
TAQSIM: Mempertajam Analisis dan Memperkokoh
Argument
Hubungn Taqsim dengan Mujadalah
Bermujadalah
ibarat hubungan pohon dengan angin pohon itu adalah pertanyaannya dan angina
adalah kritikan atau sangkalan. Semakin dalam pohon itu menghujamkan akarnya kedalam
tanah semakin kuatlah pohon itu dari terpaan angin sehingga tidak mudah
tercabut.
Demikian
juga hanya dengan pertanyaan peserta mujadalah semakin banyak yia menyampaikan
pernyataan tanpa kedalaman argumennya, semakin mudahlah ia tercabut oleh terpaan
sanggahan atau kritikan sa'il.
Kegunaan Taqsim
Jika
seseorang melakukan taqsim terhadap sesuatu yang dikenalnya amat dimungkinkan
mendapatkan beberapa kegunaan:
- Menambahkan sistematika pertanyaan
- Menambahkan jelas pandangan mengenai sesuatu (kully) sampai bagian-bagiannya
- Meningkatkan pengetahuan tentang objek yang dikajinnya
- Menambahkan kecermatan bagiannya
- Memperkokoh gagasan atau argumentasinya
Pengertian Taqsim
Taqsim berasal dari bahasa 'Arab,
"qasama" yang berarti memilah atau membagi. Sedangkan klasifikasi
berasar dari bahasa Inggris Class, yang berarti pengelompokan.
Dengan demikian, inti taqsim adalah
penentuan jenis permasalahan dan penentuan jenis pebedaan.
Jenis-jenis Taqsim:
1. Taqsim Esensial
2. Taqsim Asidental
Aturan Pembuatan Taqsim
Dalam operasionalnya, suatu taqsim harus
memnuhi aturan sebagai berikut:
1. Taqsi didasarkan atas
suatu dasar tertentu
2. Taqsim harus lengkap atau
utuh
3. Taqsim membatasi
4. Taqsim harus berdasarkan
suatu perspektif yang sama sehingga tidak tumpang tindih
5. Taqsim harus menampilkan
tabayun (harus jelas perbedaannya satu dengan yang lain)
6. Harus jelas persamaannya
Mujadalah dalam Taqsim
1. Mujadalam taqsim karena
tidak lengkap
2. Mujadalah taqsim karena
tidak membatasi
3. mujadalah taqsim karena
tidak jelas
4. Mujadalah tentang taqsim
aksidental
Taqsim dan Pengembangnanya
Zainal
Abidin menyatakan bahwa ilmu pengetahuan manusia bergerak pada posisi
"menyumur" artinya permukaan
kajiannya semakin kesini semakin kecil. Namun kedalaman dari permukaan yang
semakin sempit itu semakin dalam.


Sain
dan tauhidullah terpilah pada cabang ilmu agama/humaniora, ilmu formal, dan
ilmu empirical. Dari sana,
berkembang terus berbagai cabangnya yang membuat ranting-ranting baru hingga
kini terdapat lebih dari 650 cabang dan ranting bidang keilmuan lain,
BAB IV
Konsepsi Mujadalah
Tasdiq Tata Konstruksi Argumentasi
Pengertian Tasdiq
Tasdiq
(sintesis) disini ialah mengenai nisbat (hubungan) antara sesuatu (subjeck)
terhadap sesuatu yang lain (predikat).
0 komentar:
Posting Komentar